Mata Air

berawal dari mimpi yang BESAR

 
Picture of muslim fikri
berawal dari mimpi yang BESAR
by muslim fikri - Wednesday, 16 July 2008, 11:25 AM
 

Bismillahirrahmanirrahim

Berawal Dari Sebuah Mimpi yang besar

                Bada sarapan pagi dengan teman, kami melanjutkan amaliyah pagi yang lain, yakni berjalan-jalan di salah satu lokasi di sekitar kampus yang katanya bersih dari asap rokok dan Islami, meskipun menurut hemat penulis, rancangan tersebut masih jauh dari realitas. Ketika hendak sampai di kos, kami melihat seorang penjual (calon pengusaha) koran yang sedang menawarkan surat kabar yang terbit hari itu. Kebetulan lokasi kos kami dekat dengan area perempatan, jadi pemandangan apa yang ada di perempatan lampu merah, kami kira pembaca sudah sangat paham.

Kamipun mencoba mencari uang di saku baju kami, dan Alhamdulillah saya menemukan uang 1000 hasil kembalian dari makan tadi. Kami lalu bergegas menuju tukang koran tersebut untuk membarternya dengan sebuah kumpulan berita terkini alias koran tersebut. Karena memang saat ini ada beberapa harian di jogja yang sedang melakukan strategi promosi dengan menjual produknya seharga seribu. Setelah kami sepakat melakukan barter (tentunya barter seperti ini yang selalu dinantikan penjual koran), kami langsung pulang karena tidak sabar ingin mengobrak-ngabrik halaman demi halaman isi berita yang dimuat di koran tersebut.

Sepanjang langkah kaki dari perempatan menuju kos, saya sempat BERFIKRI, maaf maksud saya berFIKIR, siapa tau daerah saya hari ini bisa nampang di koran karena ada sesuatu hal yang menarik untuk dimuat. Meskipun hanya melihat di koran sekiranya itu bisa mengobati kerinduan yang amat sangat akan tanah kelahiran, lebih-lebih kerinduan akan sosok yang telah melahirkan saya, (dalam hati saya berdoa, semoga Allah memberikan rizki yang berkah, halal, cukup dan bermanfaat di tanah kelahiran, agar saya bisa menjemputnya dengan penuh semangat di sana, sembari bisa berkontribusi untuk membangun daerah asal).

Sesampainya di kos, kamipun langsung berbagi koran tanpa adanya sikap ANARKISME di antara kami. Sambil membaca koran, kami mencoba menyalakan televisi sekedar melihat tayangan berita pagi. Meskipun TV kami tidak sebagus yang dimiliki para pembaca mungkin, bahkan pada saat memindah saluran ke stasiun TV lain, kami harus bersusah payah mencari posisi antena agar bisa menangkap sinyal dengan ikhlas. Namun dari keterbatasan itu, ada kebanggaan yang kami rasakan, karena TV tersebut, adalah hasil dari sebagian rizki yang kita sisihkan beberapa tempo dulu, lagi-lagi hasil dari ikhtiar kami berjualan buku.

 Nonton berita di pagi hari setelah menyelasaikan tugas harian, adalah salah satu rutinitas yang sering kami lakukan. Karena menurut hemat kami, (selain tayangan sepakbola) acara berita adalah salah satu minoritas tayangan yang masih cukup bermutu, ditengah-tengah maraknya tayangan-tayangan yang hanya mengedepankan aspek tidak terpuji untuk kita konsumsi, bahkan maaf cenderung terlalu Murahan . Bisa kita lihat tayangan sinetron misalnya, mereka hanya mengedepankan kenikmatan / kesenangan yang semu dan tidak realistis. Imbasnya penikmat tayangan ini tanpa sadar telah terhipnotis, sehingga lambat laun kita lebih sering melihat adegan skenario dalam sinetron diadopsi secara nyata dalam nuansa keseharian oleh sebagian penikmat tayangan tersebut.

Kembali lagi, di tengah-tengah keseriuasan kita membaca koran, tiba-tiba telinga kami mendengar suara dari presenter berita olahraga (kebetulan saat itu yang kami lihat adalah berita olahraga), yang kurang lebih redaksinya adalah bahwa salah satu pelatih sepakbola di klub menengah di Jerman kalau tidak salah Christoph Daum (pelatih FC Cologne), berhasrat ingin membeli seorang pemain timnas Jerman yang bersinar pada pentas Piala Eropa beberapa waktu lalu. Padahal publik dan penikmat sepakbola paham bahwa pemain tersebut (kalau dalam bahasa sepakbola) telah dibandrol dengan harga yang cukup tinggi, dan cenderung di labeli NOT FOR SALE oleh klubnya. Mungkin secara kuantitatif, hasrat dari pelatih klub menengah tersebut sangat mustahil. Akan tetapi dibalik kemustahilan itu, pelatih ini melontarkan sebuah pernyataan yang penulis kira harus dijadikan semangat bagi kita semua dalam mengarungi bait-bait perjuangan dalam hidup ini. Palatih tersebut mengatakan bahwa semua itu berawal dari mimpi yang besar, meskipun mungkin dia sadar hal itu sulit terwujud, tapi pelatih tersebut memiliki sebuah keyakinan yang luar biasa (bukan biasa di luar), bahwa sesuatu yang sulit bahkan dianggap mustahil sekalipun itu bisa saja terwujud.

Dari sini (bukan dari sana), penulis sepakat bahwa semua itu memang harus dimulai dari sebuah mimpi yang besar, bukan dari mimpi yang kecil atau mimpi yang setengah-setengah. Akan tetapi persoalannya bukan hanya pada sebuah mimpi besar saja, tapi mimpi itu perlu disugestikan ke dalam diri kita secara maksimal, yang pada akhirnya akan memunculkan pemikiran dan langkah yang harus segera diimplementasikan sedikit demi sedikit dalam ranah kenyataan. Sehingga mimpi besar yang kita hembuskan menjadi semakin mendekat, bukan malah menjauh. Apapun mimpi yang kita impikan maupun cita-cita yang kita cita-citakan, kitalah yang menjadi aktor / eksekutor sesungguhnya. Jikalau kita hanya duduk manis setiap hari di depan TV untuk menikmati tayangan yang tidak berkualitas, maka yang ada kita pun ikut-ikutan menjadi kurang berkualitas, tapi jika keseharian kita selalu dipenuhi oleh aktifitas-aktifitas yang berkualitas, maka implikasi yang muncul adalah kita tidak hanya diklaim saja, tapi benar-benar akan menjadi manusia yang ber.................. silahkan pembaca dilanjutkan sendiri. Wallahu alam Bisshawab,