Mata Air

Jeritan jiwa

 
Picture of Aank Khunaefi
Jeritan jiwa
by Aank Khunaefi - Monday, 5 February 2007, 10:05 PM
 

Jeritan Jiwa di Tahun baru Hijriyah

Waktu terus berjalan, jarum jam terus berputar tanpa rasa lelah. Dari kedalaman jiwaku selalu terhanyut dalam buaian indah dunia. Kucoba berulang kali menjaga dan melindungi fitrahku yang suci. Dalam keheningan malam yang mengigit kusibak rahasia jiwa. Agin malam terdiam engan bercanda, bintang gemintang bergayut angkuh tak peduli, bulan yang indah selalu menerangi dunia, seakan memeriahkan suasana malam, kucoba selalu tersenyum setiap memandang seluruh ciptaanmu, setiap kali hatiku gundah gelisah kucoba selalu mendekatkan. Kumasuki samudra batinku yang kelam, menebar sejuta Tanya di ruang hampa jiwaku, tidak kudapatkan apapun kecuali jiwaku yang menjerit gelisah. Hal tersebut membuat aku lalai dalam menjankan amanahmu di dunia ini, memang aku sudah tidah remaja lagi karena di tahun baru hijriah ini aku genap berusia 22 tahun, artinya secara fisik aku sudah bukan remaja lagi yang identik dengan pencarian jati diri. Memang 22 tahun tidak terasa dan bahkan terlalu cepat bagiku dalam menjalani kehidupan ini, indah memang indah, kelam memang kelam itulah kehidupan dunia. Jiwa, hati dan akal selalu bertengkar dan berselisih pendapat dengan nafsu yang mengebu-gebu untuk menentukan pilihan di setiap tidakan yang kita lakukan. Kelam jika jiwa, hati dan pikiran tidak bekerja sama untuk menaklukan sang nafsu, indah, harum, putih seperti ketulusan mawar putih menghipnotis sang mahluk jika menghirupnya. Jeritan jiwa selalu menegur jika pilihanku kelam dan menyesatkan, bahkan tak cangung-cangung dalam memberi motivasi pada hati dan pikiran.

       

Kemeriahan diseluruh muka bumi ini hampir satu bulan terlalui, umat manusia selalu menunggu momen tersebut tanpa memandang latar belakan, ada yang menikmatinya dengan berfoya-foya (pesta, becumbu, bernostalgia, tebar cinta, romantisme), ada juga yang memanfaatkan momen tersut dengan perenungan. Namun, beruntunglah seorang yang memanfaatkan momen tersebut dengan perenungan karena jeritan jiwa yang mengebu, sebab dengan perenungan itulah seorang anak adam akan mendapatkan cinta dan kemesraan dari sang khalik. Renungan hati dan jiwa selalu ku beri porsi yang lebih demi terciptanya sebuah perubahan pada kepribadianku dalam menatap keindahan semesta alam yang begitu indah, bintang gumintang bertebaran di birunya awan, indah memang sangat terasa indah jika kita menikmati dengan kerendahan jiwa yang suci penuh dengan ketulusan hati, serasa ingin terus kupeluk keindahan semesta alam yang tuhan berikan kepada umat manusia. Tapi mustahil itu ku lakukan, karena aku bukanlah segala-galanya, memang setiap ciptaanya memilki sifat yang sama dengan sang penciptanya tapi itu hanya secuil dan sekecil manisnya gula pasir yang sering diburu sang semut. Selang 2minggu tahun baru islam bergatian memeriahkan agenda aktivitas dunia, tapi suasana tahun baru kali ini tidak semeriah tahun yang terkenal dengan happy new year, umat muslim diseluruh muka bumi ini memanfaatkan momen ini kebanyakan dengan aktivitas yang jauh dari hura-hura, jauh sekali perbrdaannya tapi disinilah indahnya pergantian tahun baru islam. Banyak sekali umat muslim memanfaatkan momen ini dengan aktivitas-aktivitas untuk mendekatkan diri dengan tuhannya. Tiba-tiba jarum jam menunjukan pukul 02.00 ku coba keluar dari singasanaku yang kecil dan sederhana, kutatap indahnya ciptaan tuhan bintang-bintang bertebaran, bulan dan nyaringnya bunyi suara mahluk lain, udara dingin pada waktu itu membuatku mengigil sebab dinginnya udara pada waktu itu mulai menusuk tulang rusukku.

Tak apalah namanya suasana malam menjelang pagi kata-kata itu yang sempat keluar dari mulutku. Aku tatap keagunganmu dengan penuh tawa dan canda karena aku pingin membuat tuhanku bangga dan paling tidak bisa tersenyum dengan aktivitas yang dilakukan oleh ciptaannya. Kuresapi, kuratapi dan pandangi indahnya kehidupan ini, tiba-tiba kawan seperjuanganku menghampiri dan menyapaku. Boz dari pada ngalamun mendingan nongkrong neng likuid wae tersentak kaget suasana batinku, apa nongkrong? ga ah ak mending disi lebih enak dan lebih nyaman disini, sorry banget yo bozz. Setelah kawanku pergi ku lanjutkan menikmati suasana malam itu sampai fisiku lemah, mataku mulai berat sekali untuk memandang keidahan pada waktu itu, dan pada akhirnya aku memilih mengistirahatkan tubuhku yang mulai lemah ini disingasanaku yang penuh dengan kesederhanaan, dan berakhirlah pengembaran jiwa dan batinku di malalm itu. grhurukkkkkkkkkkk..ezzzzzzzz..hehhhhhhhhh,  sampai jumpa ditahun depan.senyum

Picture of bonar puspita
Re: Jeritan jiwa
by bonar puspita - Thursday, 22 March 2007, 11:13 PM
 

edan dowo tenan tulisanmu ang.... ampe kriting aku le mbaca mati

hehehe....

Picture of M gazali Thaha
Re: Jeritan jiwa
by M gazali Thaha - Friday, 23 March 2007, 2:43 PM
 

wah penulis muda ni.

alangkah hebatnya tulisan mu.

semoga tulisan ini mewakili jeritan jiwa bagi anak muda yang sedang berada pada masa transisi.

Picture of Isthofaina Astuti SE., M.Si.
Re: Jeritan jiwa
by Isthofaina Astuti SE., M.Si. - Wednesday, 28 March 2007, 4:25 PM
 
Akur bro..........kalau jeritan hati Aank segini panjang, mbayangi nggak  kalau yang ditulis "TANGISAN HATI....." Tapi.......ternyata..bakat juga nich tuk mengekspresikan ungkapan jiwa dan rasa.......yang sering tak terduga apa, mengapa dan bagaimana.........BTW, tapi itu kan bukan jeritan"skripsi" to...Ank?
Picture of Aank Khunaefi
Re: Jeritan jiwa
by Aank Khunaefi - Friday, 13 April 2007, 10:57 PM
 
thank atas komentarnya, to mom istho sebentar lagi akan ada cerita jeritan skripsi, doakan aja semoga jadi novel.